Antara PBB Bangkrut, Donasi Kripto Unicef, dan PHK Perbankan

Antara PBB Bangkrut, Donasi Kripto Unicef, dan PHK Perbankan

News
October 10, 2019 by adi
341
Bitcoin dan cryptocurrency mulai menjadi lebih rasional dibandingkan mata uang konvensional. Hal itu berdasarkan kondisi yang ada saat ini, resesi ekonomi global, penurunan perekonomian yang terjadi, sudah nyata dapat disaksikan.
pbb bangkrut

BitcoinMedia – PBB Bangkrut. Siapa yang bakal menyangka, jika ternyata Perserikatan Bangsa-Bangsa bisa juga mengalami pailit. Organisasi dunia ini bahkan disebut terancam bangkrut lantaran banyak anggota menunggak angsuran pembiayaan untuk organisasi tersebut.

Dilansir dari Newsweek Selasa lalu (8/10/19), disebutkan terdapat lebih dari 81 negara penunggak iuaran. Dari total 81 negara penunggak iuran tersebut, sebagaian besarnya hanya membayar iuran sebesar 70 persen dari total yang seharusnya dibayarkan. Pasalnya, banyak dari negara-negara tersebut yang tengah dilanda konflik, seperti di Amerika Latin, Afrika, ataupun Timur Tengah.

Permasalahan ini mungkin dirasa sepele. Namun menurut Sekjen PBB Antonio Guterres, dana PBB yang tersedia saat ini bahkan tidak cukup untuk biaya operasional hingga akhir bulan Oktober ini. Total defisit dana PBB ini tidak tanggung-tanggung. Nilainya mencapai USD 230 juta.

Hampir senada namun tidak sama, Unicef juga merilis resmi pemberitahuan tentang penerimaan donasi menggunakan BTC ataupun ETH. Program yang bertajuk “UNICEF Cryptocurrency Fund” ini diumumkan resmi hari Selasa (8/10/19).

Di dalam terbitan pengumuman resmi itu disebut bahwa UNICEF Cryptocurrency Fund adalah inisiatif untuk mendanai teknologi open source bagi anak dan remaja di seluruh dunia. Dalam hal ini, mulai dari UNICEF di Amerika Serikat,  Australia, dan Selandia Baru sudah menerima pendanaan itu menggunakan mata uang kripto. Meski demikian, keterkaitan dengan fakta bahwa sudah minimnya dana di PBB tetap tidak bisa dikesampingkan.

Sementara itu, terdapat 13 bank besar di dunia yang mulai memangkas jumlah karyawan. Dari total 13 bank yang mengambil inisiatif PHK karyawan tersebut, 10 bank diantaranya berasal dari bank-bank di Eropa.

PHK karyawan perbankan memang sebagian besarnya terjadi di Eropa. Selain itu, terjadi pula di Amerika Utara, Timur Tengah, Afrika, sampai di Asia Pasifik. Alasannya, langkah tersebut untuk mengambil tindakan efisiensi menekan biaya produksi, dan menjaga nilai keuntungan.

Gejala utamanya jelas, perekonomian di Eropa sudah melambat sejak tahun 2017 hingga tahun 2018. Terhitung dari bulan Oktober tahun sebelumnya, rasio pendapatan 50 bank besar di Eropa menurun drastis, berdasarkan data riset CNBC (9/10/19).

Dengung potensi terjadinya resesi makin kental. Jika hal ini terjadi, potensi itu paling besar akan berimplikasi besar pada negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Cina, dan juga Eropa. Di Jerman sendiri, cukup deras wacana sudah terjadi resesi.

Di negara Jerman ini, mulai tercium ketika Kementrian Ekonomi Jerman merilis kontrak pembelian baran yang turun hingga 0,6 % di bulan Agustus 2019. Padahal, penurunan permintaan itu jauh lebih rendah sejak 15 tahun terakhir, lebih rendah 1,6%.

Beralih ke Cina, diperparah karena perang dagang dengan Amerika Serikat, Hong Kong juga mulai menghadapi resesi. Arus ekonomi di Hong Kong mulai melambat, diperpanjang lagi dengan demonstrasi berkepanjangan yang tak kunjung usai. Belum lama ini, masyarakat di Hong Kong menguras habis supply mata uang tunai di mesin-mesin ATM.

Secara umum, gejala yang ada kian menunjukkan kondisi nyata atas apa yang terjadi pada perekonomian secara global. Artikel yang ditulis oleh Steve Forbes dari  Forbes baru-baru ini jadi lebih masuk akal. Terutama menindaklanjuti pada situasi global yang terjadi.

Menurut Steve, masyarakat saat ini kian hilang kepercayaan pada sistem finansial konvensional yang ada saat ini. Hal itu berbanding terbalik terhadap bitcoin dan cryptocurrency. Rasa skeptis yang selama ini didengungkan terhadap Bitcoin dan cryptocurrency perlahan berubah menjadi jauh lebih rasional.

Salah satu nilai tambah yang dituliskan Steve tentang Bitcoin, adalah perlu untuk menunjukkan eksistensinya menjadi alternatif seperti halnya komoditas emas. Salah satu alasan pendukung yang paling utama, karena Bitcoin dianggap lebih tahan terhadap potensi terjadi manipulasi.

Ketika terjadi jurang pemisah bak langit dan bumi antara mata uang konvensional dengan sistem moneternya yang kini menjadi bumerang nyata, Bitcoin seolah mampu hadir menjadi obat yang cukup rasional selain emas.Setelah Bitcoin sempat terpuruk sejak bulan Agustus kemarin, kini performa Bitcoin mulai berangsur pulih sebagai anti tesisnya. Harga bitcoin di pasaran saat ini mencapai Rp 121,7 juta per BTC. Apakah ini memang menjadi pertanya peralihan ekonomi digital?

Add a comment