EOS Pecah Kongsi, Penggunanya Mulai Meradang

EOS Pecah Kongsi, Penggunanya Mulai Meradang

Altcoin
September 23, 2019 by adi
214
EOS kian berpotensi tersentral lantaran EOS Tribe mundur dari Block Producer. Disamping itu DAPP EOS juga tetap stagnan. Kondisi ini membuat kekecewaan mendalam para penggunanya.
EOS Pecah Kongsi

BitcoinMedia – EOS Pecah Kongsi. EOS Tribe, perusahaan investor awal EOS yang memutuskan untuk mundur dari kandidat Block Producer atau yang kerap disingkat “BP”. Melalui Eugene Luzgin dari EOS Tribe, keputusan itu diambil sekaligus memberikan peringatan untuk yang lain.

Internal EOS pecah kongsi, dan kondisi ini memunculkan potensi yang bisa membuat jaringan EOS makin tersentral. Untuk saat ini saja, perusahaan dibalik pengembang EOS menjadi pemegang supply EOS terbesar.

Opini yang berkembang menilai bahwa EOS saat ini justru cukup berpotensi menjadi kian terpusat. Ada kekhawatiran bahwa EOS rentan untuk bisa diintervensi oleh pemerintah Cina.

Memberikan keterangan di Coindesk beberapa hari lalu, Eugene Luzgin mengatakan, “Kami di EOS Tribe tidak pernah terlibat dalam permainan perdagangan voting dan tetap memegang teguh prinsip kami. Oleh sebab itu kami memutuskan meninggalkan Block Producer EOS. Kami juga bebas untuk mengutarakan kebenaran, serta memberikan peringatan pada yang lain,” terangnya.

Alasan hengkangnya EOS Tribe lantaran tidak mendapatkan dana dalam pemeliharaan jaringan dari pemegang supply EOS terbesar (whales kripto). Dikutip dari Coindesk, bahwa Eugene menyebut whales EOS lebih banyak mensupport BP yang berlokasi di Cina saja, tidak yang lain.

Meski saat ini terdapat 21 BP yang dianggap paling besar di EOS, namun hal itu dinilai tersentralisasi di Cina. Tidak ada penghargaan untuk BP di OES, saat ini banyak terdegradasi di tingkat yang rendah. Menurut Eugene, hal itu membuat pengguna di komunitas EOS cukup prihatin dengan kondisi terkini.

Block Producer EOS Terpusat di Cina

Dari keterangan Eugene, saat ini mayoritas BP di EOS terkosentrasi di Cina. Dari 21 BP besar yang ada, memperoleh jumlah voting terbanyak dari para pemilik token. Namun dari keseluruhan 21 BP itu bisa datang dan pergi sekehendaknya, kapan pun yang diinginkan.

Sejak pertama diluncurkan, EOS memang telah banyak mendapat kritik dan dianggap cukup kontroversial. Dengan pola DPoS yang digunakan, platformnya sengaja meningkatkan througput dan lebih memilih mengurangi partisipasi node di dalam konsensusnya. Belum lagi sejak awal, platform satu ini sudah banyak di cap terlalu tersentral.

Dari 21 BP terbesar di EOS, memiliki pendapatan yang lebih besar. Sedangkan kurang lebih 50 BP kecil hanya mendapat keuntungan 1% per tahun saja. Bahkan diantara 21 BP terbesar itu, ada beberapa diantaranya yang mulai tidak memenuhi syarat.

DAPPs EOS Yang Stagnan

Hal lain yang membuat kekecewaan mendalam di komunitas EOS adalah karena DAPPs EOS kian stagnan. Pengembang di EOS cenderung mengesampingkan pengembangan dapps baru untuk menarik pengguna lain.

Bagaimana tidak, platform yang berkarakter Dapps acapkali memiliki masalah krusial tersendiri. Masalah itu tidak lain karena ukuran kapasitas jaringan membengkak. Di platform EOS sendiri, hanya dalam 8 bulan sejak pertama dirilis sudah mencapai 4 terabyte. Membengkaknya kapasitas blockchain itu jelas menjadi masalah yang cukup signifikan.
Sedangkan sisi lain terhambatnya pengembangan Dapps adalah karena pada proses awal sudah melakukan kesalahan dengan menghanguskan senilai USD 167 juta cadangan dana yang seharusnya untuk pengembangan.

Hal lain, adalah karena tidak punya cara dalam mendistribusikan dana. Yang dilakukan hanyalah membuat akumulasi, tanpa ada tujuan yang jelas. Belum lagi, ada beberapa masalah lain seperti API untuk transparansi BP dan lain-lainnya.

Kurang lebih ada 10 juta EOS yang berpindah dalam jangka waktu 1 jam saja. Total nilai itu berkisar kurang lebih USD 39 juta atau sekitar Rp 545 milyar pada 3 transaksi berbeda. Meski belum bisa dipastikan milik siapa dan untuk transaksi dimana, namun perpindahan aset sebesar itu tentu saja kerap membuat banyak pengguna merasa was-was.

Add a comment