Mari Mengenal Mastercoin, Sekarang Dikenal Dengan Omni Layer

Mari Mengenal Mastercoin, Sekarang Dikenal Dengan Omni Layer

Altcoin
May 26, 2019 by adi
324
Omni, adalah kelanjutan dari proyek Mastercoin yang pertama kali diperkenalkan di tahun 2013. Ada fakta menarik tentang Mastercoin ini, lantaran menjadi proyek pertama yang menggunakan Crowdfounding. Akhirnya, belakangan muncul sekian banyak proyek ICO.
Mastercoin menjadi Omni Layer

Mastercoin adalah sebuah proyek pengembangan kripto baru di tahun 2013. Proyek Mastercoin ini adalah proyek crowdfunding pertama yang pernah dilakukan di dunia cryptocurrency. Ya, betul. Jika pada beberapa tahun terakhir proyek ICO banyak bermunculan, hal itu sudah bukan hal yang baru lagi.

Pengembang Mastercoin ini tidak lain adalah JR Willett. Tepatnya pada tanggal 31 Juli 2013, Willet pertama kali memperkenalkan protokol Mastercoin yang diusungnya di Forum Bitcointalk.

Di era tahun tersebut, proyek-proyek cryptocurrency baru memang benar-benar dilandasi dengan semangat untuk membuat proyek baru yang orisinil. Cukup syarat dengan hal-hal baru dan inovatif. Tak heran, proyek Mastercoin yang diperkenalkan di tahun 2013 itu juga cukup inovatif.

Protocol Mastercoin yang dikembangkan Willet dibangun diatas Bitcoin. Tentu saja Willet cukup meyakini bahwa Bitcoin lah yang sudah tahan uji. Hal tersebut kini makin terbukti ketika ratusan atau bahkan mungkin ribuan proyek Altcoin dan Token banyak yang pudar, justru Omni (nama baru Mastercoin sekarang) tetap bertahan.

Seperti Apa Desain Mastercoin?

Mastercoin sama seperti proyek altcoin baru yang sudah banyak bermunculan di saat itu. Yang cukup menarik, tidak lain karena  Mastercoin sudah mulai membangun protocol layer diatas Bitcoin. Secara spesifik, Mastercoin memiliki banyak inovasi. Protocol layer yang dibangun di Mastercoin berjalan layaknya HTTP yang berjalan dari TCP/IP.

Mulai logis bukan konsepnya? Apakah saat itu hanya Mastercoin saja yang mulai ambil inisiatif untuk membangun proyek baru diatas Bitcoin? Tentu saja tidak. Sebelumnya juga sudah muncul sepert Colored Coin.

Bisa dikatakan, apa yang sudah dikembangkan di proyek satu ini perlu diacungi jempol. Pasalnya, pengembangan Mastercoin juga lebih inovatif dibandingkan dengan yang proyek baru lain yang ada sebelumnya.

Beberapa hal yang cukup inovatif adalah:

  • Punya fitur lebih dalam hal keamanan
  • Potensi pengembangan bursa kripto P2P.
  • Mastercoin juga bisa menyusur segmentasi platform “betting”.
  • Punya fitur yang disebut dengan “smart property” untuk berbagai transfer aset, hak milik, ataupun saham dan lainnya.
  • Dapat digunakan sebagai instrumen untuk pengikat dengan mata uang kertas. Di fitur inilah yang kemudian banyak dimanfaatkan beberapa proyek lain seperti USDT dan lainnya.

Gambaran singkatnya, seperti inilah desain Mastercoin:

Dari gambar diatas, menjelaskan bagaimana protokol layer di Mastercoin dapat berfungsi sebagai intermediasi untuk pertukaran antar aset. Dan mampu berjalan secara terdesentralisasi. Oleh sebab itu saat pertama kali diperkenalkan, memang sudah menyebut potensial sebagai desain untuk bursa kripto yang terdesentralisasi.

Mastercoin Rebranding Menjadi Omni

Meski pertama kali mulai diperkenalkan pada bulan April, namun pada bulan September 2013 lah, proyek Mastercoin ini mulai membuat penggalangan dana (Crowdfunding). Alasannya pun memang logis, karena proyek tersebut mendapat sekian besar atensi positif dari sebagian besar komunitas kripto.

Dalam waktu yang cukup pesat, Mastercoin pada akhirnya kian berkembang. Di tahun 2014 saja, kapitalisasi pasar Mastercoin sudah mencapai USD 108.863.000. Meski demikian, 2015 pasar kripto satu ini juga mengalami masa paceklik, hingga pada tanggal 1 Agustus 2015 turun menjadi USD 1.433.240.

Hingga pada bulan Januari tahun 2016, Mastercoin memutuskan untuk mengganti nama proyeknya menjadi Omni.

Dasar perubahan nama atau rebranding itu tidak lain karena di Omni, akan lebih spesifik menjadi Protocol Layer diatas Bitcoin, tidak lagi spesifik menjadi sebuah varian Cryptocurrency saja. Pada akhirnya, Omni juga banyak disebut dengan Omni Layer, karena memang menjadi spesifik sebagai penyedia layanan protokol layer dengan berbagai fitur kekinian di dunia cryptocurrency.

Protokol Layer Omni, bisa berfungsi sebagai jembatan pertukaran antar aset kripto, pengikat untuk mata uang kertas dan kripto, serta juga smart contract.

Secara khusus, Omni memang berlaku sebagai interface antara pengguna dengan Blockchain Bitcoin. Berbagai hal yang mampu dilakukan dari layanan Omni ini mewakili banyak hal. Termasuk juga membuat token sendiri yang bisa diperdagangkan secara mandiri di bursa-bursa kripto lain.

Salah satu token yang dibuat dari Omni ini adalah USDT (Tether).

Seberapa Banyak Project Dibangun Dari Omni?

Sampai saat tulisan ini dibuat, di dalam ekosistem Omni sendiri sudah ada sekitar 700 lebih varian yang dibangun diatasnya, termasuk juga Tether USD (USDT), Agoras Token, Synereo AMP, MaidSafeCoin, dan lain-lain.

Sudah ada 700 lebih proyek baru dibangun dari Omni, termasuk juga USDT, Synereo AMP, dan lain-lain.

Sebagian besarnya, proyek-proyek baru yang dibangun dari Omni tersebut berbentuk Token, banyak juga yang merupakan token untuk peggin mata uang fiat tertentu seperti USDT.

Seberapa Dukungan Ekosistem Omni?

Sejak awal, Mastercoin memang sudah cukup menyita perhatian. Dan Omni saat ini juga sudah banyak diperdagangkan di berbagai bursa, termasuk juga Bittrex dan juga Poloniex. Belakangan, Omni mulai mendapat sekian masalah, setelah berelasi dengan USDT. Hingga Bittrex perdagangan Omni di Bittrex pun hilang.

Sementara untuk wallet, Omni wallet juga bisa digunakan seperti halnya sebuah wallet kripto secara umum. Beberapa penyedia wallet lain juga sudah banyak yang mengakomodir Omni. Seperti juga Coinomi.

Tersandung Masalah Karena Transaksi USDT Ngadat

Di tahun 2018, Omni sempat terlibat masalah karena USDT yang dibangun menggunakan Omni Layer. Hal tersebut bermula ketika harga USDT sempat turun drastis di sekitar bulan September 2018.

Sekian banyak bursa kripto seperti Binance, Huobi, Bitfinex, dan juga Poloniex sempat mengalami masalah serius untuk perdagangan pair USDT.   

Masalah tersebut tidak lain, karena konfirmasi transaksi USDT bahkan sampai memakan waktu 8 jam. Setelah ditelusuri, ternyata pusat permasalahan karena Omni terjadi insiden. Lambat laun, permasalahan dapat teratasi, dan transaksi berjalan normal kembali.

Permasalahan itu terjadi pada tanggal 18 September 2018, sebagai imbas adanya downtime API Omni. Akibatnya, Harga USDT pun turun tajam, karena terjadi kekhawatiran besar di sekian banyak pengguna, hingga bursa-bursa kripto besar. Bagaimana tidak, sekian banyak transaksi menjadi tidak terproses.

Di tahun 2019, bursa Poloniex juga terpaksa harus menghapus Omni Layer di platformnya. Desakan itu menindaklanjuti aturan yang berlaku dari pihak SEC di bulan April. Akibatnya, selain Omni layer, ada 8 varian lain yang dihapus, yakni Ardor (ARDR), Bytecoin (BCN), Decred (DCR), GameCredits (GAME), Gas, Lisk (LSK), NXT, dan Augur (REP). Sementara itu, USDT yang dibangun dari Omni makin terseret skandal sejak 2017 hingga saat ini.

Add a comment