dclinic
dclinic
dclinic
dclinic
Beranda blog

Tolak ProgPow, Komunitas Ethereum Bikin Petisi

0
Tolak ProgPow, Komunitas Ethereum Bikin Petisi

Rencana dalam proposal pengembangan Ethereum, Ethereum Improvement Proposal (EIP) ProgPoW menuai kontroversi. Polemik ini pada akhirnya membuahkan penolakan di komunitas. Petisi yang ditulis oleh Justin Leroux berharap dapat menggagalkan EIP 1057 tentang ProgPow yang sudah dipersiapkan sejak tahun 2018.

Petisi penolakan ProgPow tersebut diposting dua hari lalu (25/2/2020) melalui Github. Petisi dikabarkan sudah ditandatangani lebih dari 70 orang. Termasuk dari Uniswap, DARMA Capaital, beserta CEO Truffle Suite.

EIP 1057 tentang usulan ProgPoW Ethereum ini mulai banyak diperbincangkan kembali di sekitar bulan Agustus 2019. Peristiwa yang melatarbelakangi berkaca pada bulan April 2018 saat chip Antminer E13 pabrikan Bitmain dirilis.

Khusus untuk chip Antminer E3 ini, dirancang khusus untuk dapat melakukan pertambangan Ethereum (ETH). Rilis produk chip asic mining ini membuat kekhawatiran para penambang. Sementara para proposal terkait ProgPoW, adalah dalam rangka untuk membuat konsensus pertambangan Ethereum menjadi resisten ASIC.

Menurut Justin Leroux, proposal EIP ProgPoW tidak mendapat dukungan dari komunitas Ethereum. Justin mengatakan bahwa Ethereum adalah platform global dengan pemangku kepentingan besar dan beragam. Sehingga cukup penting perubahan protokol yang dilakukan memiliki tujuan jelas dan mendapat dukungan luas.

Secara teknis, Justing juga menilai perubahan algoritma pertambangan itu bisa memberikan resiko yang luas. Di lain pihak, pendukung rencana ProgPoW dapat membantu pada saat proses harfork untuk merubah konsensus menjadi Proof of Stake.

Pada proposal EIP 1057 inilah upaya untuk mengganti algoritma mining Ethash. Sejak saat pertama diperkenalkan, sejumlah kritik memang sudah mengalir deras. Terutama menindaklanjuti latar belakang pengusung ProgPoW.

Sempat tersiar kabar saat itu, bahwa usulan ini diperkenalkan oleh Krity Leigh Minehan, berasal dari perusahaan Core Scientific. Sementara dibelakang Core Scientific ini dikomandoi oleh COO Microsoft, B. Kevin Turner.

Yang lebih unik lagi, Core Scientific sudah bermitra dengan perusahaan cloud computing bernama Squire Mining. Ada nama pengacara Craig Wright, Calvin Ayre yang ternyata sudah memiliki 827 juta saham perusahaan Squire Mining.

Alih-alih berniat resisten terhadap ASIC, upaya ini justru akan menjadi masalah baru lantaran menjadi santapan perusahaan-perusahaan besar yang ada dibalik rencana tersebut. Termasuk juga seperti vendor kartu grafis besar seperti AMD, NVidia, dan lain-lainnya.

Pasar Saham Melemah, Pasar Kripto Ikut Turun

0
Pasar Saham Melemah, Pasar Kripto Ikut Turun

Pasar saham Asia maupun global saat ini dalam posisi zona merah. Kondisi ini disebut karena dipicu kekhawatiran virus corona. Tidak hanya berimbas di pasar saham, namun juga berimbas ke pasar kripto. Di pasar derivatif BitMex misalnya, setidaknya ada penjualan besar senilai lebih dari USD 190 juta.

Jika nilai aksi jual di BitMex itu dirupiahkan, kurang lebih sebesar Rp. 2,6 trilyun pada hari Rabu kemarin (26/2/2020). Hari ini, harga bitcoin terus melemah 4,53% dalam 24 jam terakhir. Saat tulisan ini dibuat, harga bitcoin jatuh di angka USD 8.748 per BTC. Atau sekitar Rp 121,6 juta per BTC. Padahal sempat terpantau sebelumnya, masih sempat bertahan diangka USD 9 ribuan.

Sejak dua hari lalu, 10 papan atas kripto dan token juga dalam kondisi zona merah. Pada tanggal 25 Februari lalu itu, Bitcoin sudah melemah 1,84%. Disusul kemudian Ethereum turun 2,63%. Sementara XRP dan BCH turun 2,75% dan 4,66%. BSV turun lebih tinggi sekitar 5,55%, Litecoin minus 2,47%, token USDT turun 0,02%, EOS juga minus 2,56%, Token Binance minus 5,66%, dan tertinggi untuk Tezoz dengan yang turun hingga 8,95%.

Dampak virus corona cukup berpengaruh pada pasar. Marketplace Coinbase beberapa waktu lalu juga tengah mempersiapkan langkah antisipatif menanggapi sebaran virus Corona. Coinbase ini mempersiapkan tahapan strategis untuk mempersiapkan kondisi yang terburuk.

Kekhawatiran juga cukup berimbas di pasar saham. Tercatat sejak kemarin, bursa di Eroa sudah ditutup negatif sekitar 1,8% sampai 2,45%. Ada sekitar 29 saham dari 30 saham perusahaan besar di index DAX 30 yang sudah merugi.

Hal yang sama terjadi di pasar saham Perancis. Sejak hari Selasa lalu (25/2/2020) sudah terperosok tajam. Indes CAC 40 jatuh 1,94%. Turun 112,19 poin menjadi 2.679,68 poin. Tercatat 38 saham yang merugi, dari total 40 saham di perusahaaan-perusahaan besar.

Sementara di IHSG kemarin (26/2/2020), turun 62,24 poin ke level 5.724,9. Faktor penurunan ini sebut lantaran salah satu modal asing keluar dari pasar saham dengan jumlah besar. Setidaknya ada kurang lebih Rp 886,13 milyar. Sebelumnya, Chatib Basri memberikan komentar di media bahwa Virus Corona (COVID-19) bisa memberikan dampak pada perekonomian Indonesia.

Update terakhir hari ini (27/2/2020), total sebaran virus Corona mencapai 82.164 orang. Padahal sehari lalu terpantau masih berjumlah 81.191 orang yang terpapar, berdasarkan Johns Hopkins CSSE Corona Virus Map. Artinya, dalam rentang 1×24 jam sudah naik 973 orang baru yang terpapar.

Firefox Aktifkan Fitur DNS Over HTTPS, DoH

0
Firefox Aktifkan Fitur DNS Over HTTPS – DoH

Baru-baru ini Firefox sudah mengaktifkan fitur layanan DNS terenkripsi dari Cloudflare. Fitur DNS over HTTPS (DoH) ini dirilis secara default untuk pengguna di Amerika Serikat. Sementara jika fitur tersebut belum aktif, tetap dapat dilakukan secara manual.

Fungsi fitur baru Firefox melalui DNS over HTTPS mencegah tracing ISP melalui browser yang digunakan oleh pengguna. Alasannya, ada kekhawatiran bahwa pihak Firefox atas potensi ISP yang memantau penggunaan web pelanggan. Tentunya, bakal bikin geram ketika pengguna yang sudah membayar layanan ISP ternyata diketahui ada “tukang intip” yang diam-diam bersembunyi dibalik aktifitas anda.

Meski demikian, langkah ini bukan berjalan langsung mulus. Upaya Mozilla Firefox ini mendapat protes keras dari pihak ISP. Penyedia internet nirkabel maupun kabel telah berupaya menuntut untuk menghentikan undang-undang privasi atas penjelajahan Web. Pasalnya dengan undang-undang tersebut ISP harus mendapat ijin pelanggan jika ada penggunaan atau mengambil riwayat penelusuran situs maupun data sensitif lain.

Menanggapi hambatan itu, Fifefox nampak tetap tidak pantang mundur. Sebaliknya, langkah penyebaran enkripsi DNS over HTTPS ini makin berjalan agresif. Nampaknya, hal serupa juga tengah dipersiapkan juga oleh Google Chrome. Tersiar kabar bahwa saat ini yang dimulai Google masih dalam tahap percobaan.

Perhatian pihak Mozilla menilai bahwa DNS yang tidak terenkripsi cukup rentan. Potensi dapat di mata-matai, bahkan juga berpotensi untuk bisa dieksploitasi. Bagi Mozilla internet perlu beralih dengan cara yang lebih aman. Salah satunya adalah fitur pencari DNS melalui HTTPS yang terenkripsi.

Pada fitur DNS terenkripsi di Firefox inimenggunakan setting Cloudflare secara default. Dalam hal ini, pengguna hanya perlu untuk merubah manual setingan Firefox dan memasukkan layanan tersebut. Caranya:

Buka opsi pengaturan di brower Firefox

Firefox DNS Over HTTPS DoH 1

Pada kolom General sebelah kanan, tekan tombol Setting Network

Firefox DNS Over HTTPS DoH 2

Lalu centang fitur “Enable DNS over HTTPS”, dan pilih “Cloudflare”.

Firefox DNS Over HTTPS DoH 3

Simpan setingan tersebut dengan menekan tombol “OK”.

Dan Firefox sudah siap dipergunakan. Dikutip dari ArsTechnica Selasa (25/2/2020), Mozilla tetap terbuka untuk menambahkan lebih banyak penyedia layanan DNS terenkripsi. Dengan persyaratan bahwa pihak penyedia layanan tersebut memenuhi privasi dan juga transparansi. Syarat lainnya adalah tidak memblokir atau filter domain secara default, kecuali ada permintaan dari penegak hukum setempat.

Coinbase Siaga Virus Corona, Persiapkan Skenario Terburuk

0
Coinbase Siaga Virus Corona, Persiapkan Skenario Terburuk

Virus Corona selama ini sudah banyak berimbas pada ekosistem cryptocurrency. Seperti vendor ASIC pada ekosistem pertambangan, dan juga Coinbase. Marketplace yang berbasis di California Amerika Serikat ini juga memiliki beberapa kantor cabang seperti di Irlandia, Inggris, dan juga di Jepang.

Sementara di wilayah Jepang sendiri, tercatat sudah ada 178 orang yang positif terpapar virus Corona (COVID-19). Di jepang, dari total 178 orang yang positif terpapar, terdapat 2 orang meninggal, sementara 22 orang dinyatakan sembuh.

Total keseluruhan sebaran virus Corona saat ini berdasakan data dari John Hopkins CSSE berjumlah 81.191 yang terpapar. Jumlah meninggal sampai hari ini (26/2/2020) adalah 2.768 orang, dengan total 30.279 orang yang dinyatakan sembuh. Lokasi terbesar paparan virus Corona masih di China, dan Korea Selatan di posisi kedua terbanyak.

paparan virus corona di Jepang
Coinbase memiliki salah satu kantor cabang di Jepang, dan disebut sudah mulai memberlakukan fase pertama

Sebaran virus corona ini nampaknya membuat Coinbase harus mempersiapkan langkah siaga menanggapi kondisi terburuk. Langkah siaga bencana sebaran virus Corona ini terutama sudah mulai diberlakukan di kantor cabang Jepang. Di lokasi ini, pihak Coinbase sudah memberlakukan Fase pertama.

Langkah sigap bencana ini setidaknya terdapat 3 Fase, seperti dalam dokumen 9 halaman yang dirilis CEO Coinbase Brian Amstrong beberapa waktu lalu. Eskalasi tiga fase tersebut adalah berdasarkan pada kondisi jumlah staf Coinbase yang terpapar virus Corona, dalam skenario menghadapai situasi terburuk.

langkah sigap bencana Coinbase terhadap virus corona
Langkah sigap bencana Coinbase terhadap virus corona

Fase pertama yang akan diberlakukan, jika terdapat 100 orang terpapar virus corona. Pada tahapan ini, pihak Coinbase berupaya untuk membersihkan lingkungan kantor cabangnya. Langkah ini diikuti juga dengan membatasi jumlah pengunjung di kantor Coinbase. Sementara untuk karyawan, diberikan untuk bekerja dari rumah.

Fase keuda ketika ada peningkatan jumlah terpapar hingga 1000 orang. Pada fase ini pihak Coinbase menyatakan untuk memberlakukan karantina seperti langkah yang diambil pemerintah. Disamping itu diikuti pula dengan menghentikan kunjungan konsumen ke kantor Coinbase, dan mengurangi resiko penyebaran virus melalui makanan. Untuk itu di kantor Coinbase juga tidak akan memberikan makanan.

Langkah terakhir, di Fase Ketiga, jika kedua fase sebelumnya telah dianggap gagal. Pihak Coinbase dalam hal ini akan memutuskan seluruh karyawan untuk bekerja dari rumahnya masing-masing. Membersihkan lingkungan kantor cabang, dan memutus seluruh kunjungan dan operasional jam buka cabang sampai waktu yang tidak terbatas. Kantor cabang ini juga disebutkan akan terkunci.

Corona Virus di Italia
Italia, negara dengan paparan virus corona terbesar setelah Korea Selatan

Sejauh ini, pihak Coinbase juga dikabarkan membatasi perjalanan dinas karyawan mereka ke luar negeri. Seperti ke China, Hong Kong, Italia, Jepang, maupun ke Korea Selatan. Wilayah-wilayah tersebut juga menjadi paparan virus dengan jumlah yang besar.

Dibandingkan dengan Jepang, Italia menjadi negara ke tiga terbesar setelah Korea Selatan. Jumlah paparan virus di Italia saat ini berjumlah 322 orang. Dari total 322 orang itu, 10 orang dinyatakan meninggal, dan 1 orang dinyatakan sembuh.

Antonio Pompliano Tidak Suka Ripple, Tak Ingin Beli XRP

0
Antonio Pompliano Tidak Suka Ripple
Antonio Pompliano Tidak Suka Ripple

Pendiri Morgan Creek Capital, Antonio Pompliano menyebut bahwa dirinya tidak suka dengan Ripple XRP. Oleh sebab itu, Pompliano tidak ingin membeli XRP. Pernyataan itu disebutkan dalam sesi wawancara di CNN bersama reporter Julia Chatterley.

Pompliano, memang sudah banyak dikenal sebagai pendukung Bitcoin. Dirinya juga kerap dikenal dengan acara Podcast yang didirikan bernama “Off the Chain”. Pada sesi wawancara sehari lalu (25/2/2020) di CNN, Pompliano sembat memberikan pernyataan tegas dengan menyebut bahwa Ripple (XRP) tidak bernilai.

Pentolan Morgan Creek Capital ini tidak punya keraguan sama sekali untuk berkata tidak pernah ingin membeli Ripple maupun aset digital kripto lain dengan klaim berbasis blockchain. Alasannya, varian-varian tersebut tidak memiliki nilai yang sama seperti pada Bitcoin.

Terkait dengan nilai ini, Pompliano menyebut Bitcoin memiliki nilai yang sama seperti aset lain, seperti yang bisa dilihat dengan saham. Nilai dari saham itu berdasarkan PDB, pendapatan, hingga dari sisi profit. Menurutnya, segala sesuatu yang membuat entitas tersebut menjadi berharga, tidak akan berubah.

Lebih jauh Pompliano juga menyoroti token utilitas dari proyek-proyek tokenisasi. Dalam hal ini, Pompliano menilai bahwa semua aset digital dengan sifat seperti token utilitas itu sebenarnya bukan produk investasi. Kecuali berupa nilai utilitas saja yang mungkin bisa didapatkan.

Sejauh ini, proyek-proyek tokenisasi memang sempat menjadi cukup liat di sepanjang tahun 2017 silam. Lalu kian meredup di masa-masa sepanjang tahun 2018 hingga 2019. Lebih spesifik dengan token XRP dari Ripple, menurutnya dua hal yang berbeda.

Ripple labs memiliki beberapa produk seperti xRapid,xCurrent, hingga XRP. Perusahaan ini juga banyak melibatkan investasi beberapa perusahaan seperti Bitso, MoneyGram dan yang lain. Dalam pandangan Pompliano, perusahaan teknologi atas nama Ripple Labs bisa saja di klaim berbeda dengan XRP sebagai token yang dihasilkan.

Namun menurutnya investor tidak banyak memahami tentang kinerja Ripple sebenarnya. Jika orang menilai bahwa Ripple saat ini sudah sukses, tidak berarti bahwa XRP ini benar-benar sukses. Terlebih ketika nilai XRP lebih dianggap banyak dikendalikan agar bisa lebih jauh dalam mempengaruhi harga di pasar.

Moneygram Mitra Ripple, Merugi USD 11,9 Juta Dari XRP

0
Moneygram Mitra Ripple, Merugi USD 11,9 Juta Dari XRP

Moneygram adalah salah satu mitra Ripple (XRP) yang telah terjalin sejak bulan Juni tahun 2019 lalu. Dalam laporan tahunan keuangan yang dirilis dua hari lalu, pihak MoneyGram menyebut telah merugi. Total kerugian di sepanjang tahun 2019 itu sekitar USD 11,9 juta. Atau setara dengan Rp. 116 milyar lebih.

Jika diperinci lebih jauh, total kerugian itu berawal dari penurunan per saham jadi USD 0,16 senilai total awal sebesar USD 12,5 juta. Padahal di tahun lalu nilai per saham masih bernilai USD 0,19. Sementara penambahan nilai per saham yang diberikan hanya sebesar USD 0,01 di tahun lalu, flat.

Dari total pendapatan yang menurun dari Ripple (XRP) di tahun 2019 berjumlah USD 8,9 juta. Yang cukup menggelikan, bahwa sejumlah analis seperti dari Thomson Reuters menduga bahwa MoneGram akan melaporkan ini sebagai “Contra Expense”.

Artinya, meskipun merugi, namun pendapatan MoneyGram dari pihak Ripple itu akan dianggap sebagai pengeluaran, bukan sebagai salah satu pendapatan. Menurut press rilisnya yang tersebar di media, laporan tahunan akhir yang disampaikan tersebut sebelumnya sudah melalui konsultasi SEC selaku Sekuritas di Amerika Serikat.

Perkara masuk hitungan pendapatan atau tidak, hal tersebut kembali berawal dari pandangan Ripple sebagai sebuah sekuritas yang sempat muncul sejak beberapa tahun yang lalu. Menurut Thomson Reuters, MoneyGram nampak bakal melaporkan kerugian sebesar USD 0,02 per saham dengan total pendapatan tahun 2019 sebesar USD 329,15 juta.

Banyak pihak menilai keputusan untuk masuk dalam kemitraan Ripple (XRP) ini sebagai sebuah keputusan yang tepat. MoneyGram sebagai perusahaan remiten internasional, dianggap punya nilai lebih dari keputusan tersebut. Namun, pada saat ini, iklim kompetisinya jadi kian ketat. Belum lagi dengan demam CBDC yang sudah bakal bermunculan di tahun 2020 ini.

Di sektor insitusional misalnya, beberapa yang sudah muncul terlebih dahulu seperti JPM Coin dari JP Morgan. Lalu DECP yang dibikin oleh China, raksasa teknologi IBM yang lebih memilih untuk menyiapkan framework khusus berbasis DLT ketimbang membuat mata uang sendiri. Kenyataan ini jelas membuat MoneyGram tidak boleh berdiam diri. Terutama dengan fakta perolehan keuntungan yang sudah merugi dari Ripple di tahun 2019.

Apa itu Cryptocurrency? Ini Jenis Cryptocurrency Dan Penjelasannya

0
Apa itu Cryptocurrency? Ini Jenis Cryptocurrency Dan Penjelasannya

Cryptocurrency berubah pesat sejak munculnya BItcoin sebagai tonggak pembeda besar karena mampu secara mandiri berjalan tanpa melalui peran pihak ketiga manapun. Faktanya, cryptocurrency di era Bitcoin berangkat dari proses panjang perjalanan sistem pembayaran elektronik.

Di era cryptocurrency Bitcoin, benar-benar muncul dengan pembeda besarnya. Pondasi pola terdesentralisasi di dalam sistemnya ditopang dengan cabang ilmu kriptografi melalui jaringan peer-to-peer. Di masa sebelumnya, karakter ini belum pernah bisa terwujudkan.

Secara umum, desentralisasi sistem di dalam Bitcoin, mampu memberikan tingkat keamanan transaksi yang mumpuni. Mampu mengatasi problematika besar sistem pembayaran elektronik sebelumnya. Mulai dari Byzantine General Problem, hingga potensi celah double spending.

Apa itu Cryptocurrency?

Cryptocurrency adalah sistem pembayaran tunai elektronik berbasis kriptografi melalui tipologi jaringan peer-to-peer. Cryptocurrency ini jelas ditandai ketika Bitcoin muncul dan diperkenalkan pertama kali di tahun 2008 silam oleh Satoshi Nakamoto.

Istilah kata “Cryptocurrency” banyak digunakan karena pengguna melihat Bitcoin tidak hanya mampu berfungsi sebagai “Penyimpan Nilai” saja, melainkan bisa berfungsi juga sebagai “mata uang”. Di dalam hal lain, sudah cukup banyak bermunculan varian lain selain Bitcoin, disebut dengan “Altcoin”.

Oleh sebab itu, istilah Cryptocurrency umumnya digunakan untuk menyebut jenis-jenis cryptocurrency secara umum, termasuk Bitcoin dan Altcoin.  Sebutan secara umum ini tentu saja berasal dari kata “cryptocurrencies” (plural)dalam bahasa Inggris yang berarti “mata uang-mata uang berbasis kriptografi”.

Terkait dengan Bitcoin yang diperkenalkan sebagai sebuah Sistem Pembayaran Tunai Elektronik Berbasis Peer-To-Peer, Cryptocurrency Bitcoin ini memang tidak dapat dipandang sama seperti mata uang digital biasa.

Infrastruktur pembangun antara Bitcoin dengan mata uang digital konvensional jelas sudah berbeda jauh. Secara umum, dapat dilihat sifat dan karakter cryptocurrency seperti di bawah ini:

Sifat dan Karakter Cryptocurrency

1. Terdesentralisasi
2. Peer-to-peer
3. Berbasis kriptografi
4. Jumlah Supply Terbatas
5. Konsensus terdistribusi
6. Menyimpan kesejarahan transaksi
7. Temper Proof, hampir mustahil bisa dimanipulasi

Mengapa disebut mata uang atau currency?

Bitcoin disebut juga dengan cryptocurrency atau mata uang berbasis kriptografi karena memang bisa berfungsi juga sebagai alat pembayaran tunai. Namun penyebutan ini sebenarnya berasal dari para penggunanya sendiri. Di dalam komunitas Bitcoin, pengguna banyak memberikan penafsiran berbeda-beda. Sebagian ada yang menyebut sebagai salah satu mata uang. Ada pula yang menyebut sebagai “Penyimpan Nilai”, seperti halnya emas, namun berbentuk digital.

Perbedaan pandang dalam komunitas dalam memaknai Bitcoin ini diibaratkan seperti sebuah Metafora dalam cerita klasik. Upaya pemberian label terhadap Bitcoin sebagai mata uang, sah-sah saja dilakukan. Karena faktanya memang ada fungsi yang tidak bisa disangkal, bahwa bitcoin bisa berfungsi sebagai sebuah mata uang digital berbasis kriptografi. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bitcoin dapat dipandang sebagai mata uang alternatif.

Jenis Cryptocurrency?

Selepas bitcoin diperkenalkan dan mampu berjalan, dalam perjalanannya banyak bermunculan varian alternatif selain Bitcoin. Hal ini ditandai pertama dengan munculnya Litecoin di sekitar tahun 2013. Karena semakin banyak varian baru yang muncul, istilah “Altcoin” mulai dipergunakan.

Istilah Altcoin itu bermakna “Alternatif Coin” atau kripto alternatif. Fungsinya menunjukkan pembeda jelas antara Bitcoin dengan varian kripto baru lain yang telah banyak bermunculan. Sehingga semua jenis kripto baru “Selain Bitcoin”, disebut dengan Altcoin tersebut.

Sebagian besarnya, varian-varian Altcoin ini banyak yang menggunakan souce code asli dari Bitcoin. Pengembang Altcoin hanya banyak melakukan modifikasi saja dari source code asli Bitcoin tersebut. Namun, ada pula beberapa varian yang membangun dari awal, atau membuat versinya sendiri. Berbeda dengan konsep Bitcoin. Meskipun, banyak pro kontra terkait dengan sisi keamanan, privasi, kecenderungan penguasaaan jaringan oleh pemiliknya dan hal-hal lain.

Umumnya, jenis-jenis cryptocurrency (Cryptocurrencies) dikategorikan dalam dua kategori besar:

  1. Bitcoin
  2. Altcoin (Alternatif Coin)
  3. Token (Cenderung tidak disebut Sebagai Kripto / Cryptocurrency)

Bitcoin

Logo Bitcoin
Logo Bitcoin

Bitcoin diperkenalkan pertama kali oleh Satoshi Nakamoto di tahun 2008 melalui makalah semi formal (Whitepaper) dengan judul “Bitcoin: Sistem Pembayaran Tunai Elektronik Bebasis Peer-To-Peer”. Bitcoin, menjadi mata uang kirpto pertama di dunia yang muncul sebagai pembeda dengan konsep yang terdesentralisasi dalam tipologi jaringan peer-to-peer.

Karena dapat berfungsi seperti halnya sebuah alat pembayaran elektronik, Bitcoin pada akhinya banyak disebut sebagai salah satu mata uang alternatif, atau currency (Mata Uang). Lebih jauh, karena Bitcoin menggunakan pondasi cabang ilmu kriptografi, maka istilah “Cryptocurrency” kemudian muncul.

Altcoin

Alcoin digunakan sebagai sebutan untuk alternatif koin kripto selain Bitcoin. Artinya bahwa varian kripto selain Bitcoin, pada akhirnya akan disebut dengan ALTCOIN. Hanya akan ada satu Bitcoin, selebihnya adalah Altcoin.

Meski perkembangannya ada cabang baru dari sumber code yang sama, seperti BCash (Bitcoin Cash), Bitcoin SV, dan Bitcoin Gold dan yang lainnya, varian-varian ini tetap disebut dengan Altcoin. Karena bukan Bitcoin aslinya.

Token

Penyebutan token ini pada awalnya ditujukan untuk setiap unit-unit kripto. Namun ketika pada proyek-proyek berbasis Ethereum, Tokenisasi ini menjadi cukup liat. Penuh dengan hype, fraud, dan segudang permasalahan lain.

Istilah token yang awalnya digunakan untuk unit-unit kripto (koin kripto) menjadi perlu digunakan untuk proyek-proyek tokenisasi Ethereum tersebut. Fungsi terbesarnya, agar masyarakat awam banyak mengetahui perbedaan mendasarnya.

Secara teknis, infrastrukturnya memang sudah cukup berbeda. Cryptocurrency mampu berdiri sendiri, sementara Token hanya bersifat turunan saja. Tidak mampu berdiri sendiri. Ketergantungan yang tidak bisa mandiri ini juga diperparah ketika proyek tokenisasi hampir keseluruhan tidak bersifat terdesentralisasi.

Melainkan dikuasai penuh oleh pemilik proyek, yang kebanyakan dari korporasi atau pemodal besar. Penguasaan tunggal tersebut mulai dari jumlah supply unit-unit token yang dibuat, tanpa ada proses minting melalui ekosistem pertambangan, sumber code yang mutlak hanya dikendalikan pemilik proyek, sampai mekanisme pendistribusian.

Blockchain Adalah Bitcoin , Bukan Yang Lain

Blockchain adalah mekanisme pengelolaan struktur data yang dipergunakan di dalam Bitcoin. Satoshi Nakamoto menyebut pertama istilah ini dengan sebutan (Chain of Block), atau berarti “Rantai Block”. Satoshi Nakamoto, menggunakan ide awal dari Ralph Merkle, yakni Merkle Tree.

Di dalam Bitcoin, ide awal tentang Merkle Tree dikembangkan menjadi lebih hampir mendekati sempurna. Pasalnya struktur data ini dilengkapi dengan “Pointer Hash” yang mampu merujuk kesejarahan transaksi.

Gambaran secara lebih umum, tipikal pengelolaan data di dalam Bitcoin, mampu berfungsi sebagai “temper-evident log”, atau mampu menyimpan data tanpa meninggalkan kemungkinan bisa dimanipulasi.

Mekanisme penyusunan ini kemudian diperkuat kembali dengan konsensus yang terdistribusi dalam tipologi jaringan secara peer-to-peer. Singkat kata, struktur data dari Satoshi Nakamoto bahkan jauh melampaui capaian ide dasar Merkle Tree dari Ralph Merkle itu sendiri.

Capaian luar biasa dari konsep rantai block Satoshi Nakamoto, karena untuk pertama kalinya di dunia, struktur data Merkle Tree bisa didistribusikan dalam jaringan Peer-to-Peer. Sehingga jauh bisa mencapai konsensus secara terdistribusi. Yang paling fundamental selanjutnya, susunan data ini mampu menyelesaikan masalah besar dalam pola distribusi data, seperti masalah Byzantine General Problem dan juga Double Spending.

Dalam diskusi di mailing list, ketika pertama kali Bitcoin diperkenalkan (sebelum Bitcoin dibangun dan berjalan), untuk pertama kalinya istilah “Chain of Block” Satoshi Nakamoto tersebut disempurnakan oleh Hal Finney menjadi “Block chain”.

Blockchainer, kemudian dengan cukup jenius hanya merubah dengan menghapus “spasi” itu hingga menjadi “Blockchain”.

Blockchain disebutkan pertama kali oleh Hal Finney
Blockchain disebutkan pertama kali oleh Hal Finney dalam diskusi mailinglist Bitcoin dengan Satoshi Nakamoto. Kata blockchain itu disebut tidak untuk selain Bitcoin. Bahkan varian selain Bitcoin apapun tidak pernah ada saat itu. Apalagi berbentuk tokenisasi.

Tidak Bisa Terbantahkan, bahwa istilah Blockchain itu dipergunakan hanya untuk menyebut Bitcoin. Bukan Yang Lain. Jelas Hal Finney istilah Blockchain itu disebut Hal Finney ketika membicarakan Bitcoin.

Fakta yang ada:

  • Tidak pernah ada konsep yang sama sebelum Bitcoin muncul
  • Muncul istilah itu di saat menyebutkan tentang Bitcoin
  • Blockchain adalah bagian krusial yang tidak pernah bisa terpisahkan dari infrastruktur lain yang digunakan Bitcoin.

Sebutan tentang “Blockchain”, pada akhirnya banyak diartikan dengan mengedepankan “HYPE” semata. Proses pemaknaan ini kemudian banyak tereduksi ketika sekian banyak varian Altcoin mulai bermunculan. Terlebih parah lagi ketika era “TOKENISASI” mulai liar dan digawangi dari platform Ethereum.

Salah kaprah yang begitu carut-marut dalam memaknai Blockchain ini membuat sebagian besar komunitas Bitcoin memunculkan istilah “Bitcoin, Not Blockchain”. Padahal, seluruh hal pembicaraan tentang Blockchain, pada dasarnya membicarakan tentang Bitcoin.

Penggunaan istilah bitcoin bukan blockchain pada dasarnya muncul ketika komunitas bitcoin cukup geram ketika banyak orang awam dengan begitu mudahnya menyebut Blockchain dengan entitas-entitas yang sama sekali tidak bersifat terdesentralisasi.

Na’asnya lagi, kalangan pemuja teknologi blockchain “Blockchainer” atau biasa juga disebut dengan “FanBoys” ini kian hype dengan istilah tersebut. Sementara, pemaknaan yang banyak diutarakan dalam proyek-proyek yang dipromosikan oleh blockchainer tersebut sepenuhnya bertolak belakang.

Proyek-proyek berbasis blockchain itu justru bersifat tersentralisasi, dan bertolak belakang dengan karakteristik blockchain aslinya yang seharusnya bersifat terdesentralisasi.

Blockchain Tidak Berguna Tanpa Unit-unit Cryptocurrency

Kesalahpahaman itu diperparah ketika banyak dijumpai pendapat bahwa Blockchain bisa berjalan tanpa ada unit-unit cryptocurrency. Padahal, blockchain itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari keseluruhan infrastruktur Bitcoin. Artinya, blockchain tidak akan bisa berjalan dan berguna tanpa ada unit-unit cryptocurrency.

Bagaimana mungkin tipologi dan infrastruktur blockchain mampu memberikan jaminan kemanan transaksi tanpa menggunakan mekanisme pertambangan sebagai penjaga mutlak jaringan utamanya? Bagaimana infrastruktur tangguh keamanan itu bisa dicapai tanpa menggunakan konsensus secara terdistribusi? Bagaimana keseluruhan sistem itu bisa berjalan tanpa ada unit-unit kripto yang berperan sebagai motor penggeraknya?

Keseluruhan pertanyaan itu bahkan tidak mungkin untuk bisa dijawab tanpa Bitcoin muncul pertama kali. Faktanya, Blockchain akan bisa berjalan dengan mulus seperti apa adanya Bitcoin saat ini yang sudah dikenal.

Dalam alur cara kerja cryptocurrency seperti Bitcoin, Blockchain dapat berjalan ketika masalah penciptaan unit-unit kripto itu terselesaikan melalui mekanisme pertambangan. Ekosistem ini berperan cukup vital sebagai penjamin tingkat keamanan secara keseluruhan.

Seluruh infrastruktur ini ditunjang dengan distribusi konsensus. Sehingga secara keseluruhan, bisa mencapai konsensus yang terdesentralisasi. Outputnya tidak lain menjadi sebuah ekosistem yang benar-benar aman.

Capaian akhir pemanfaatan blockchain di dalam sistem Bitcoin memang seperti halnya sebuah database. Namun, unsur pembeda paling fundamental adalah karena output database dalam Blockchain Bitcoin mampu memberikan jaminan keamanan yang signifikan. Tangguh, dan hampir mustahil untuk dimanipulasi.

Jika hanya dimaknai sebagai sebuah database biasa, lantas apa bedanya dengan teknologi BIG DATA? Dalam hal ini, konsep Blockchain yang dimaknai oleh orang awam, pada dasarnya adalah Distributed Ledger Technologi (DLT). Dalam tinjauan teknisnya, DLT ini BUKANLAH BLOCKCHAIN.

Blockchain Dan DLT (Distributed Ledger Technology) Jauh Berbeda

Dalam tipologi jaringan, kita akan mengetahui ada salah satu tipologi jaringan terdistribusi. Selanjutnya tipologi jaringan ini disebut dengan Peer-to-Peer. Dalam hal ini, blockchain (baca: Bitcoin) bisa disebut sebagai terdistribusi.

Namun pembedanya adalah bahwa Bitcoin ini murni terdesentralisasi. Karakter inilah yang memberikan pembeda mutlak. Terlebih jika terkait dengan DLT (Distributed Ledger Technologi).

Blockchain: Terdesentralisasi dan Terdistribusi
DLT: Terdistribusi, Tidak Terdesentralisasi

Fakta yang ada, bahwa hampir sebagian besar proyek-proyek berbasis blockchain yang banyak digembar-gemborkan itu, bukanlah bersifat terdesentralisasi. Artinya, ada peran mutlak dari pemilik proyek, baik pada penciptaan unit-unit TOKEN (karena umumnya berbasis tokenisasi), mekanisme distribusi, hingga source code.

Kenyataan itu tidak terbantahkan mengapa tidak layak jika disebut menggunakan berbasis “Blockchain” jika ternyata hanyalah bersifat DLT. Lalu seperti apa DLT (Distributed Ledger Technolgy) itu sebenarnya?

Haber Dan Stornetta
Haber dan Stornetta

DLT ini berawal dari konsep mekanisme “TimeStamp” yang pertama kali di ciptakan oleh Haber dan Stornetta pada tahun 1991. Teknik dan implementasi TimeStamping ini memang juga digunakan dalam infrastruktur Bitcoin.

Teknik Timestamp, mampu dijadikan sebagai sebuah bukti bahwa dokumen digital itu bisa memberikan bukti konkrit dan bisa dilakukan. Kenyataan yang tidak bisa disangkal, bahwa Surety, perusahaan Haber dan Stornetta adalah sepenuhnya perusahaan yang bersifat terpusat.

Mekanisme yang digunakan layanan Surety untuk mekanisme pemberian cap waktu itu juga dilakukan secara terpusat. Artinya layanan mekanisme timestamp tersebut asih bergantung pada server tertentu. Tidak bisa berjalan secara mandiri atau terdesentralisasi.

Fakta kedua, sudah banyak pula perusahaan-perusahaan cloud computing besar yang ternyata banyak digunakan oleh proyek-proyek dengan klaim berbasis blockchain. Artinya, konsensus yang ada dijalankan pada sistem terpusat, tidak benar-benar terdesentralisasi.

Dalam hal pencapaian konsensus yang benar-benar terdesentralisasi inilah yang membedakan mutlak antara Blockchain dengan DLT (Distributed Ledger Technology).

Cryptocurrency Berbeda Dengan Mata Uang Digital Biasa

Cryptocurrency jelas berbeda dengan bentuk mata uang digital biasa. Infrastruktur pembentuk cryptocurrency yang menjadi pembeda utama. Cryptocurrency bersifat terdesentralisasi berbasis pada kriptografi sebagai pondasinya, sementara mata uang digital secara umum banyak dikuasai oleh pihak tertentu sebagai penentu mutlaknya.

Contoh Cryptocurrency: Bitcoin, Litecoin, Dash, Zcoin dan lain-lain

Mata uang digital: PayPal, Perfect Money, Dana, Gopay, CBDC, dan lain-lainnya.

Mata Uang Fiat: Rupiah, Dolar Amerika Serikat, Yen, dan lain-lainnya

Sehingga, Cryptocurrency mungkin masih bisa disebut sebagai mata uang digital lantaran bentuknya memang bersifat digital. Sebaliknya, mata uang digital tidak bisa disebut dengan Cryptocurrency karena infrastrukturnya sudah berbeda.

Raspiblitz, Open Source Perangkat Lightning Node Ini Rilis Versi Baru

0
Raspiblitz, Open Source Perangkat Lightning Node Ini Rilis Versi Baru

Sudah cukup banyak varian perangkat lightning node yang telah muncul. Salah satunya adalah Raspiblitz. Berbeda dengan kebanyakan perangkat lightning node, Raspiblitz ini adalah code open source yang dimanfaatkan pengguna untuk membuat sendiri perangkat node lightning network.

Baru-baru ini, pengembang Raspiblitz merilis pembaruan di versi 1.4. Di versi ini memuat cukup banyak pembaruan yang menarik. Seperti penambahan fitur dengan integerasi BTCPayServer, LND versi 0.9.0 beta dengan bitcoin core versi 19.0.1 beta, TORv3 dan banyak yang lain.

Jika dibandingan dengan build mandiri melalui LND, mungkin akan dirasa cukup rumit. Pemanfaatan piranti keras dari Rapsberry yang mungil, menjadi kian menarik. Terutama jika sudah ada framework yang tersedia untuk membangun node lightning network melalui Raspiblitz.

Singkat kata, pengguna memang banyak dibantu guna mempermudah integerasi dan adopsi jaringan petir Bitcoin. Saat tulisan ini dibuat, setidaknya sudah ada 5180 node dengan 32.387 channel payment yang sudah dibuat. Kapasitas transaksinya mencapai 891,16 BTC. Di tahun penghujung tahun 2018 silam, kapasitas transaksi ini masih sekitar 500 BTC. Jumlah kapasitas itu naik sekitar 56% lebih dibandingkan dengan tahun 2018.

Salah satu tambahan fitur di versi Raspiblitz baru, menggunakan BTRFS. Fitur ini memungkinkan untuk menyimpan file system menjadi bagian tersendiri. Artinya, database node lightning network juga dapat disimpan pada perangkat harddrive berbeda.

Beberapa fitur tambahan lain yang tidak kalah menarik adalah integerasi server Electrum menggunakan ElectRS. Server electrum ini dibangun menggunakan Rush. Electrum memungkinkan pengguna untuk menjalankan server sendiri.

Di versi yang baru, Raspiblitz juga dilengkapi pembaruan untuk proses import maupun eksport data melalui proses Migrasi. Dukungan yang ramah pengguna juga dilakukan dengan menggunakan touchscreen UI. Singkat kata, jika pengguna masih enggan untuk membeli perangkat node lightning network, bisa mencoba membuat sendiri memanfaatkan code dari Raspiblitz.

Dimana Letak Nilai Blockchain Yang Diusung BitCherry?

0
Dimana Letak Nilai Blockchain Yang Diusung BitCherry?

Tahun 2020 adalah tahun kedua bagi BitCherry sejak platform blockchain komersial terdistribusi ini didirikan tahun 2018 silam. Saat ini, BitCherry juga dikenal dengan infrastruktur sektor komersil terdisitribusi pertama yang berbasis teknologi IPv8.

Inovasi yang dilakukan memberikan paradigm baru dalam teknologi. BItCherry memiliki filosifi desain arsitektur yang aman, efisien, dan independen untuk memanfaatkan ekosistem bisnis yang ada.

Fokus tata letak proyeknya adalah dalam mengintegerasikan kebutuhan bisnis, tren pasar, dan pengguna secara keseluruhan. Tentu saja, BitCherry didukung dengan pengalaman praksis untuk mengintegerasikan aplikasi strategis sampai operasional untuk penggunanya.

Jika dibandingkan dengan ETH, EOS, ataupun rantai block tradisional lain secara umum, arsitektur teknis BitCherry dirancang agar bisa menjangkau segmentasi lebih jauh. Pengembang memiliki ambisi teknis soal inovasi ledger public ini.

Termasuk dalam inovasi dalam meningkatkan kapasitas transaksi per detik. Bahkan  kurang dari satu persepulih ribu kali per detik. Kecepatan pemprosesan transaksi dapat berimplikasi pada kemacetan trafik data. Hal ini juga bisa berpotensi menjadi masalah besar industri blockchain.

Sementara EOS mungkin menjadi platform yang pertama mengusung soal TPS ini. Dengan klaim TPS EOS mampu mencapai satu juta transaksi per detik menggunakan Grapheme yang ditunjang dengan mekanisme BFT-DPos.

Namun dalam proses implementasinya menghadapi banyak kesulitan. Dan yang paling banyak di sorot seperti proses jual beli vote dalam mekanisme DPOS. Setidaknya di EOS ini ada 21 simpul node yang terbesar dan dikendalikanoleh beberapa orang saja. Kondisi ini memperkeruh dan berimbas pada pengembangannya.

Ketika simpul node jadi tidak loyal di platform, maka terjadi masa yang stagnan. Seluruh ekosistem jaringan EOS bisa menghadapi masalah besar. Dalam kajian pengukuran yang cukup ideal berdasarkan hasil dari B1, TPS EOS setidaknya berkisar kurang dari 2000. Fakta ini jelas berbeda jauh dengan klaim yang disebutkan dalam whitepapernya.

Sementara pada konsensus aBFT, node BitCherry juga mengadopsi HashGraph. Mekanisme yang digunakan dengan memperkenalkan ekspansi lapisan jaringan yang mengacu pada jaringan utama.

Upaya ini memungkinkan memperoleh sumber daya komputasi sendiri, mandiri. Termasuk dalam hal kapabilitas memperoses transaksi. Secara tidak langsung, upaya ini bisa menjadi solusi skalabilitas di seluruh ekosistem jaringan.

Hasilnya, konsensus node di seluruh jaringan bisa diperluas hingga 100 ribu. Seluruh node yang berpartisipasi pada penjagaan konsensus di setiap jaringan dapat dikelola setidaknya ratusan simpul koneksi. Terkait dengan stabilitas dan tingkat efisiensi, TPS dapat menghasilkan lebih dari 100.000.

Sebagai tambahan, pada proses ini juga berjalan di IP lapis jaringan berbeda. Artinya BitCherry dapat mencapai konsensus secara peer-to-peer berkecepatan tinggi melalui dua piranti berbeda. Pada lapisan jaringan itu BitCherry bisa mencapai layanan domain + DNS yang terdesentralisasi. Layanan Web terdesentralisasi HTTP + serta layanan aplikasi terdesentralisasi lainnya.

Implementasi enkripsi komunikasi secara point-to-poin beserta otorisasi melalui digital signature, smart contract berbasis peer-to-peer dapat mencegah potensi serangan DNS, DDOS, dan memastikan privasi serta keamanan node.

Seperti yang kita ketahui, pada gelombang baru era teknologi saat ini, pengembang menjadi kekuatan utama yang signifikan dalam membangun ekosistem berbasis teknologi. Oleh sebab itu, jika biaya pengembangan dapat ditekan seminimal mungkin, maka proses pembelajaran itu menjadi kuan lancar. Perusahaan dan ekosistem Dapp juga dapat beradaptasi dan bergabung ke dalam ekologi itu.

Pada smart contract BitCherry berfungsi penuh. Orientasi pengembangan smart contract ini untuk lebih memudahkan pengembang. Docker yang dikembangkan BitCherry memiliki fitur lengkap. Lebih banyak mengakomodir berbagai jenis bahasa pemprograman. Selain itu mendukung pula untuk sanbox.

Terkait dengan dukungan bahasa pemprograman ini, seperti untuk C++, Java, Go, hingga TypeScript yang digunakan oleh pengembang smart contract di EOS. Secara tidak langsung, dukungan banyak varian bahasa pemprograman ini membuat kalangan perusahaan ataupun pengembang individu untuk mempelajari banyak hal, ataupun jika berniat untuk membuat pengembangan berdasarkan kebutuhannya sendiri.

Pada tanggal 20 Februari lalu, BitCherry juga menjadi sponsor event Blockchain Economy Summit 2020 yang digelar di Istambul Turki. Pada kesempatan tersebut, BitCherry banyak memperkenalkan ide dan inovasi baru kepada para peserta.

Inovasi yang terus dikembangkan tersebut tidak hanya sebatas pembaruan teknis, namun juga menandai iterasi seluruh industry. Secara keseluruhan, BitCherry punya peluang untuk mematahkan belenggu ekologi bisnis praktis. Hal ini sejalan dengan pengalaman internet yang telah menjadi cukup terintegerasi, menjadi evolusi teknologi informasi. Dalam hal ini, BitCherry dengan potensinya memiliki masa depan terhadap ekologi rantai block komersil.

(gambar: doks Bitcherry)

DClinic Gandeng 4 Rekan Bisnis, BP Batam Makin Strategis

0
DClinic Gandeng 4 Rekan Bisnis Strategis, BP Batam Makin Strategis

Pertemuan dengan rekanan bisnis dClinic berlangsung Kamis (20/2/2020), bertempat di Marketing Center BP Batam. Hadir dalam kesempatan itu adalah empat rekanan yang berasal dari P4 Group, vElement, Cellix dan TheraVab, CEO dClinic Dr Richard Satur bersama Stephen Moo – MD dClinic Indonesia, Suwarso – Direktur Badan Usaha Bandar Udara dan Teknologi Informasi dan Komunikasi BP Batam, dan Dendi Gustinantar – Protokol dan Promosi BP Batam.

Kemitraan baru tersebut berasal dari Amerika Serikat. Baik P4 Group, vElement, Cellix dan TheraVab adalah perusahaan-perusahaan di sektor biofarmasi dan biosains AS. Fokus kemitraan tersebut, adalah untuk dapat fokus menggali potensi penelitian medis yang berskala internasional.

CEO dClinic, Dr Richard Satur dalam kesempatan itu memberikan komentar, “Dengan mengusung Private Healtcare Blockchain (PHB), Batam memiliki kesempatan untuk melakukan eskalasi potensi. Tidak hanya unggul dari bidang teknologi yang nantinya akan didukung dengan data centre dan IT Centre BP Batam, namun juga dapat melahirkan kegiatan medis lainnya, seperti penelitan medis dengan skala internasional”. 

Saat membuka acara, Anggota Badan Pengusahaan BP Batam Syahril Japarin dalam sambutannya mengatakan, “Kami berharap hadirnya rekan-rekan calon investor hari ini mampu meningkatkan kompetensi medis dan sains. Baik dari segi sumber daya manusia hingga teknologi, serta pelayanan rumah sakit di Indonesia, terangnya.

Syahril Japarin dalam kesempatan itu mengapresiasi upaya yang telah dilakukan dClinic Internasional guna mendukung potensi investasi di Batam. Terutama untuk sektor pelayanan medis. BP Batam telah menjadi kemitraan dClinic. Penandatanganan kemitraan antara kedua pihak tersebut untuk meningkatkan PHB dClinic di BP Batam, beserta BMB (Batam Medical Blockchain) pada tanggal 27 Juni 2019 silam.

Terkait dengan upaya-upaya menggali potensi penelitian itu, Richard Satur menambahkan bahwa nantinya pada proses penelitian akan melibatkan banyak pihak. Seperti para praktisi akedemisi hingga mahasiswa, khususnya di Batam sendiri.

Lebih jauh, dalam keterangannya di media, CEO dClinic ini mengatakan untuk mendukungnya dengan membangun fasilitas laboraturium di Batam. Fasilitas itu nantinya dapat berguna untuk mendiagnosa berbagai penyakit, serta industri farmasi untuk meramu obat-obatan yang diperlukan dalam penyembuhan pasien.

Upaya tersebut juga disambut baik oleh Direktur Rumah Sakit BP Batam. Dr Sigit Riyanto mengatakan bahwa upaya dClinic Internasional sesuai dengan ekosistem ideal untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Medical di Batam. Menurutnya KEK Medikal tersebut saat ini juga masih dalam proses perancanang.

Setidaknya ada lima faktor pendukung dalam mencapai kawasan KEK Medikal di Batam. Dari penjelasan Sigit Riyanto, lima faktor tersebut meliputi adanya Rumah Sakit, Pusat Penelitian Kesehatan dan Kebugaran, Industri Alat Kesehatan, Farmasi, dan Hotel atau akomodasi bagi kerabat pasien.

Beberapa waktu waktu sebelumnya, proyeksi dClinic dalam menyusur industri Biotek dan Farmasi ini juga telah disampaikan oleh MD dClinic Indonesia Sthepen Moo. Industri biotek dan farmasi dipercaya akan banyak beralih dengan mengadopsi dan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Terlebih kebanyakan industri yang sama masih banyak menggunakan patchwork basis data pusat berdasarkan standar EDI (Electronic Data Interchange). Sedangkan pola EDI menampilkan koneksi secara poin-to-point. Hal tersebut implementasinya tergolong mahal.

Sementara ada potensi interoperabilitas skala besar menjadi hampir mustahil dicapai. Selain itu pendekatan basis data yang digunakan masih punya resikko pengalihan. Seperti adanya potensi pemalsuan data, dan juga kesenjangan kepercayaan pada “siloed system”.

Press Release

J.D Salbego Resmi Menjadi CEO BitTok, Jadi Pembicara di Turki

J.D. Salbego Resmi Menjadi CEO BitTok, Jadi Pembicara di Turki

0
JD Salbego menjadi salah satu pembicara penting di event Blockchain Economy yang digelar di Istambul Turki, 20-21 Februari lalu. Salbego baru-baru ini resmi didapuk sebagai CEO BitTok. Platform BitTok memiliki fitur proteksi aset digital kripto. Jika ada pengguna yang kehilangan aset secara tidak sengaja, smart contract tersebut secara otomatis memicu mekanisme proteksi dan agunan untuk pengguna.