UMKM Perlu Adopsi Teknologi Blockchain

UMKM Perlu Adopsi Teknologi Blockchain

News
August 2, 2019 by adi
256
Pelaku e-commerce dipandang perlu untuk menerapkan teknologi blockchain agar tidak bangkrut. Pasalnya UMKM yang telah mengadopsi teknologi ini bisa menghilangkan peran e-commerce.
UMKM - Teknologi Blockchain

Rico Rustombi, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Logistik dan Supply Chain sempat memberikan komentar saat event GBIS 2019 (29/7/19) di Jakarta. Menurutnya, pelaku e-commerce perlu untuk adopsi teknologi blockchain agar tidak bangkrut.

Di agenda yang berlangsung dua hari tersebut adalah kelanjutan setelah Kadin sebelumnya sudah mendirikan Blockchain Center of Excelence anda Education (BCEE). Hasilnya, Kadin dan BCEE bekerjasama dengan Global Blockchain Investment Alliance, dan Asosiasi Blockchain Hong Kong menggelar Global Blockchain Investment Summit (GBIS) 2019 di Jakarta tersebut.

Salah satu potensi adopsi blockchain menurut Rico adalah karena UMKM akan punya peran besar untuk bisa memanfaatkan potensi teknologi itu. “e-commerce besar kalau tidak menerapkan blockchain bisa hilang,” terangnya.

Alasannya karena e-commerce sejauh ini berperan menjadi mediasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk memasarkan produk-produknya. Munculnya teknologi blockchain dianggap berpotensi besar menjadi disrupsi di segmentasi e-commerce tersebut.

Jika UMKM sudah banyak mengadopsi teknologi blockchain, baik untuk pembayaran, pemasaran, hingga fasilitas pendanaan, maka perantara melalui e-commerce bisa dihilangkan. UMKM tidak perlu lagi kesulitan untuk mendapat akses pendanaan baru melalui perbankan. Pasalnya di penerapan teknologi tersebut akses pendanaan baru itu terbuka lebar.

Rico menambahkan, adopsi teknologi blockchain ini justru akan membuat UMKM lebih berkembang. Karena teknologi tersebut justru lebih punya potensi untuk bisa terhubung secara global.

Dari hasil riset yang dilakukan oleh pihak Kadin sendiri, adopsi teknologi blockchain dianggap cocok untuk diaplikasikan di pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia. Dengan pola jaringan peer-to-peer, blockchain tidak lagi bergantung pada server terpusat. Bahkan jaringan ini bisa berjalan selama 24 jam tanpa henti.

Salah satu persolan yang banyak terjadi di Indonesia adalah masalah logistik. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, biaya ini jauh lebih mahal. Regulasi yang ada menjadi tumpang tindih antar kementerian dan lembaga di Indonesia.

Menurut Rico, biaya logistik ini harus bisa jauh lebih efisien dan murah. Dengan begitu Indonesia punya daya saing tinggi untuk bisa berkompetisi dengan negara-negara lainnya.  Terkait dengan penerapannya di Indonesia, Rico mengiyakan bahwa saat ini memang teknologi blockchain belum banyak dikenal dipasaran. Meski demikian, Rico Rustombi berharap dalam empat hingga lima tahun ke depan akan bisa berkembang.

Add a comment