CBDC Mulai Dibahas Serius Forum Ekonomi Dunia 2020

Meski sempat diwarnai demonstrasi, namun Forum Ekonomi Dunia 2020 di Devos Swiss cukup serius membahas CBDC. Bank-bank sentral dunia kini lagi menggandrungi untuk membuat mata uang digitalnya sendiri.

0
67
DBDC Mulai Dibahas Serius Forum Ekonomi Dunia 2020

BitcoinMedia.Forum Ekonomi Dunia 2020 yang digelar di Davos Swiss mulai serius membahas CBDC (Central Bank Digital Currency). Pada forum tersebut bahkan sudah menyiapkan framework kebijakan secara khusus.

Kerangka kebijakan khusus untuk CBDC atau mata uang digital bank sentral itu sudah diumumkan kemarin (22/1/2020). Toolkit untuk membuat kebijakan terkait CBDC dapat digunakan untuk regulator dalam memahami potensi mata uang digital bank sentral. Sekaligus memberikan bimbingan sampai desain kebijakannya.

Kerangka kebijakan itu disusun oleh Forum Ekonomi Dunia 2020 bersama dengan para petinggi bank sentral, para peneliti bank sentral, organisasi-organisasi internasional, sampai pakar yang berasal lebih dari 40 institusi di dunia.

Pimpinan Teknologi Blockchain dan DLT dari WEF, Sheila Warren mengatakan:

“Bank sentral tetap memainkan peranan penting dalam ekonomi global. Setiap implementasi mata uang digital bank sentral, termasuk potensi teknologi blockchain, akan memiliki dampak signifikan di dalam negeri maupun internasional.”

Sheila Warren

Menurutnya, bank sentral perlu melanjutkan prosen implementasi mata uang digital itu dengan sangat hati-hati. Melakukan analisis mendalam. Baik terkait dengan peluang, dan juga potensi tantangan yang bisa ditimbulkan.

Kesempatan di Devos Swiss itu nampak berupaya mengambil sample pilot project yang dimulai dari Bank Sentral Thailand. Pada kesempatan yang Veerathai Santiprabhob selaku gubernur bank sentral Thailand mengatakan bahwa institusinya telah membuat kemajuan positif untuk implementasi CBDC versinya.

Kabar yang tersiar, proyek CBDC dari bank sentral Thailand tersebut diberi nama Project Inthanon. Tidak hanya di Thailand, bank sentral Hong Kong juga diklaim telah membuat progress yang sama. Implementasi mata uang bank sentral atau kerap disingkat dengan CBDC itu diharapkan mampu menjadi alat pembayaran lintas batas negara.

Sementara toolkit yang telah dipersiapkan itu dianggap cukup berguna dalam membantu pengembangan dan implementasi CBDC menjadi lebih baik. Mata uang bank sentral, saat ini memang terkesan menjadi “obat penawar” dari segala hal yang melingkupi perekonomian dunia.

Banyak kalangan dari institusi perbankan, termasuk pihak bank sentral percaya jika CBDC dapat meningkatkan transisi transaksi yang lebih transparan. Bisa digunakan untuk keterbukaan pelaporan data keuangan, dan meningkatkan tracing transaksi dibandingkan mata uang fisik (kertas).

Disamping itu, dalam kerangka kebijakan khusus untuk mata uang digital bank sentral itu juga menyebut bahwa implementasinya membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Terlebih jika menyoal sisi keamanan. Termasuk ketahanan sistem, sampai potensi-potensi resiko yang mungkin bisa ditimbulkan.

Sementara yang dijelaskan dalam toolkit CBDC itu, kebanyakan menerangkan konsep mata uang digital yang berbasis DLT (Distributed Ledger Technology). Karakterisitk yang dibangun menggunakan DLT, sudah dipastikan tidak bersifat terdesentralisasi. DLT untuk mata uang digital ini dikontrol sepenuhnya oleh bank sentral.

Setidaknya dalam dokumen toolkit itu menyebut ada tiga klasifikasi CBDC berbeda. Tiga klasifikasi yang dimaksud adalah ditujukan untuk retail, wholesale dan juga Hybrid. Ketiga klasifikasi itu dibedakan berdasarkan akses penggunaan yang berbeda.

Baik untuk kategori non lembaga keuangan, bank komersial, ataupun sebagai cadangan bank sentral untuk komersial dan institusi keuangan lain. Sedangkan CBDC hybrid lebih diperuntukkan lembaga keuangan yang tidak punya akses langsung kepada bank sentral.

Di kesempatan Forum Ekonomi Dunia 2020 (WEF), dihadiri juga oleh beberapa pemimpin dunia. Termasuk juga Donald Trump, presiden Amerika Serikat. Sementara diluar acara tersebut, Forum Ekonomi Dunia di Devos ini juga diwarnai aksi demostrasi.

Pihak kepolisian kemarin (22/1/2020), sampai menggunakan meriam air, gas air mata, hingga peluru karet. Upaya yang dilakukan oleh pihak kepolisian itu terpaksa dilakukan untuk dapat membubarkan para demonstran. Sedangkan unjuk rasa yang dilakukan, terkait dengan isu-isu di dunia. Termasuk juga tentang perubahan iklim yang sepatutnya mendapat perhatian serius oleh setiap pemerintah.