Negara Mana Saja Berpotensi Melarang Libra

Negara Mana Saja Berpotensi Melarang Libra

News
July 8, 2019 by adi
332
Meski baru akan diluncurkan tahun depan, Libra Facebook kian berat untuk bisa mendapat lampu hijau di sejumlah negara. Dari sebagian besar tokoh di berbagai negara sudah memberikan sinyal yang negatif terhadap Libra.
Melarang Libra

Sejak pertama kali whitepaper Libra Facebook mulai diperkenalkan publik, mata uang digital bikinan Mark Zuckerberg ini sudah menuai kontroversi. Hanya dalam sekejap saja, sekian banyak pihak dan regulator banyak yang ikut memberikan komentarnya di media.

Libra dengan varian stablecoin ini sebenarnya baru akan diluncurkan tahun depan. Namun sejak saat diperkenalkan, seolah varian baru Libra sudah menghadapi tembok besar. Bagaimana tidak, dengan melihat basis pengguna di Facebook saja sudah bisa dilihat mampu menjangkau sebagaian besar negara di dunia.

Dari sebagian besar tokoh, tidak sedikit pula yang memberikan sinyal bakal berikan lampu merah untuk Libra. Meski sebagian besar tokoh yang memberikan komentar tersebut masih belum merepresentasikan suara resmi dari pemerintah bersangkutan, namun besar kemungkinan hal tersebut akan benar-benar terjadi. Berikut adalah negara-negara yang berpotensi untuk melarang Libra.

  • Indonesia

Penghujung bulan Juni lalu, Juda Agung selaku Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia memberikan komentar tentang Libra di media. Juda Agung menegaskan dengan mengutip aturan yang masih berlaku di Indonesia, bahwa satu-satunya mata uang yang sah di Indonesia adalah Rupiah.

“Yang kemarin muncul adalah Libra dari Facebook, pada intinya alat pembayaran yang sah di Indonesia adalah Rupiah. Diluar Rupiah, alat pembayarannya tidak sah,” tegasnya. Meski demikian, BI disebut masih akan selalu mencermati perihal Libra.

  • Amerika Serikat

Amerika Serikat adalah negara yang berpotensi melarang Libra. Melalui Maxine Waters, dari Ketua Komite Jasa Keuangan Parlemen Amerika Serikat, sehari setelah Libra diperkenalkan sudah berupaya untuk mengambil langkah moratorium untuk Libra. Landasan yang ditempuh oleh Maxine Waters ini bisa dikatakan menjadi langkah yang cukup punya landasan kuat.

Alasan utama menurut Waters adalah, karena sejauh ini Facebook sendiri telah mempunyai masa lalu yang kelam. Masa lalu kelam Facebook itu tidak lain berkaitan dengan insiden kebocoran 87 juta data pengguna Facebook ke salah satu Firma Konsultan Cambridge Analytica di tahun 2018.

Akibat dari insiden tersebut, pada tanggal 12 April di tahun yang sama Mark Zuckerberg dipanggil oleh Kongres Amerika Serikat. Tidak itu saja, Badan legislatif AS juga memanggil dirinya untuk proses investigasi terhadap pilpres AS tahun 2016 yang diduga ada campur tangan agen Rusia.

Selain soal praktek penjualan data pengguna, Waters juga menitik beratkan langkahnya sebagai upaya protektif terhadap investor. Bahkan, hal tersebut juga harus dipertimbangkan dari sisi keamanan nasional, tidak hanya soal privasi, namun juga resiko perdagangan yang mungkin bisa ditimbulkan.

  • Inggris

Melalui Mark Carney selaku Gubernur Bank of England menyatakan bahwa Libra perlu mendapat perhatian lebih serius dari instansi keuangan global. Meski demikian, Mark Carney juga berpendapat bahwa Libra akan dapat meningkatkan inklusi keuangan. Oleh sebab itu butuh kejelasan regulasi agar dapat mengurangi tindak pencucian uang.

Komentar Mark Carney yang dianggap akomodatif ini juga disebut Mark bukan berarti bahwa dirinya pribadi menawarkan pintu terbuka kepada Facebook untuk Libra. Tentu saja, Mark Carney sendiri juga telah banyak mengetahui apa yang telah terjadi pada Facebook terkait dengan pelanggaran data pribadi pengguna. Dengan begitu, Inggris juga masih berpotensi untuk melarang Libra.

  • India

Merujuk dari komentar Subhash Garg selaku Sekretaris Urusan Ekonomi India pekan lalu, mengatakan bahwa Libra lebih nampak menjadi mata uang privat dan tidak disukai di India. Belum lagi, menurutnya desain mata uang Facebook tersebut masih belum dijelaskan sepenuhnya.

Subhash Garg juga menyinggung bagaimana perlakuan Bank Sentral India (RBI) terhadap mata uang kripto selama ini. Menurutnya, pemerintah maupun bank sentral sebenarnya melarang cryptocurrency. Sedangkan bank sentral disebut saat ini masih menyunsun undang-undang tegas atas penggunaannya.

Salah satu pakar hukum di India, Anirudh Rastogi, juga memberikan pandangan tentang Libra. Pendiri Ikigai Law di India ingi mengatakan bahwa dirinya tidak membedakan antara aset digital yang terpisah dengan jaringannya untuk bisa berinteraksi dengan mata uang fiat Rupee di India.

Rastogi beranggapan RBI tidak akan terlalu khawatir jika Libra dibuat untuk ditransaksikan secara internal di dalam Facebook, tidak keluar. Namun jika dibuat untuk bisa ditransaksikan keluar platform Facebook, tentu saja akan terlibat juga dengan ekonomi eksternal yang ada. Besar kemungkinan India akan juga melarang Libra.

  • Perancis

Bruno Le Maire, Menteri Keuangan Perancis saat memberikan komentar di 1Radio mengatakan bahwa Libra tidak mungkin bisa menjadi mata uang digital yang berdaulat. Bruno sendiri bahkan telah meminta gubernur bank sentral yang ada di Group of Seven, seperti AS, Inggris, Kanada, Italia, Spanyol, Perancis, dan juga Jepang, untuk saling mengkonfrontasi Libra.

  • Jerman

Jerman, dan beberapa negara lain di Group of Seven disebut bakal serius berupaya untuk melarang Libra. Hal ini sesuai dengan komentar Menteri Keuangan Perancis, Bruno Le Maire.

Terutama, raksasa sosial media Facebook sendiri saat ini berada dalam pengawasan ketat di seluruh dunia, terutama di Eropa terkait dengan perlindungan privasi.

  • Rusia

Ketua Komite Duma – Rusia, Anatoly Aksakov mengatakan di medeia lokal Rusia, TASS, bahwa Rusia tidak akan melegalkan Libra. Dilansir dari media tersebut, alasan tidak melegalkan Libra karena dianggap menjadi ancaman untuk keuangan negara.

  • Korea

Hari Jumat lalu (5/7/19), FSC Korea Selatan merilis laporan resmi terkait dengan Libra. Dalam laporan resmi itu, disebutkan bahwa Libra dapat berpotensi membahayakan stabilitas keuangan Korea Selatan.

Negara-negara Yang masih Mendalami Libra, atau Mendukung

  • Singapura

Melalui Ravi Menon, selaku Managing Director Monetary Authority of Singapura (MAS), memberikan komentar tentang Libra di media Strait Times (28/6/19). Menurutnya, pihaknya sejauhi ini masih mempelajari perkembangan baru Libra.

Ravi mengatakan ada beberapa manfaat potensial yang sebelumnya pihaknya sudah tertarik untuk dunia keuangan. Alasannya, Libra dapat membantu meningkatkan bisnis karena pembayarannya bisa dilakukan lintas batas negara. Dengan biaya transaksi lintas negara yang saat ini mahal, tidak efisien, dan bahkan beresiko, Libra disebutnya bisa membantu hal itu.

Meski demikian, pihaknya disebut perlu melihat lebih jauh bagaimana sisi perlindungan pengguna, privasi dan hal lainnya.

  • China

Sampai sejauh ini, China masih menyisakan tanda tanya besar. Namun sejak pertama kali Libra diperkenalkan, sejumlah tokoh dan pengamat teknologi di China juga saling berdebat. Sedangkan Bank Sentral China masih belum memberikan respon apa-apa terkait hal itu.

Rencana negara China untuk menerbitkan mata uang digitalnya sendiri juga dikabarkan belum ada kemajuan yang signifikan.

Meski belum ada reaksi dari bank sentral, namun perusahaan besar seperti Tancent disebut bakal mendukung Libra. Alasannya, Libra dapat mengganti peran mata uang negara-negara lemah. Pendiri Tancent, Pony Ma, menyebut membuat mata uang seperti Libra tidak sulit, namun yang paling sulit adalah mendapat lampu hijau dari para regulator.Sementara pakar teknologi dari Tiande Tech China, Wei-Tek Tsai, Libra akan membuka pintu “currency war”. Hanya saja menurutnya, currency wars ala Libra ini masih bersifat “gaya lama”, karena kompetisi mata uangnya masih bergantung pada mata uang fiat.

Add a comment